Breaking News

Menyusuri Desa Deket Wetan, Dari Jejak Sejarah Wali Sanga Hingga Menjadi Pusat Kemajuan Lamongan

Lamongan, Bin.id - Di balik hiruk-piruk perkembangan zaman dan pesatnya modernisasi, Desa Deket Wetan yang terletak di Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berdiri kokoh menjaga akar sejarah dan identitasnya. 

Desa ini bukan sekadar wilayah pemukiman biasa, melainkan sebuah kawasan strategis yang menyimpan rekam jejak panjang sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa.

Berada tepat di ibu kota Kecamatan Deket dan dilintasi jalur nasional serta kawasan perindustrian, Desa Deket Wetan memiliki luas wilayah sekitar 250,5 hektar. Wilayah ini terbagi dalam dua dusun utama, yaitu Dusun Deket Wetan dan Dusun Puncel.

Perjalanan Kepemimpinan dari Masa ke Masa

Keberhasilan Desa Deket Wetan dalam menjaga stabilitas dan memajukan warganya tidak lepas dari peran kepemimpinan para Kepala Desa yang mengabdi secara turun-temurun, di antaranya,Faturrahman (1871 – 1941,Muskan Darmo Prajitno (1941 – 1968), 
Kuestaji (1968 – 1992),Paimin (1992 – 2007), Ir. Kusbianto Susiloputro, M.Si. (2007 – Sekarang)

Di bawah kepemimpinan para tokoh tersebut, Deket Wetan berkembang menjadi perpaduan harmonis antara kemajuan ekonomi kawasan industri dan kelestarian nilai-nilai lokal.

Jejak Sejarah 426 Tahun dan Hubungan Keturunan Wali Sanga

Secara historis, keberadaan Desa Deket Wetan telah dikenal sejak 426 tahun silam. Naskah kuno dan penuturan sejarah mencatat bahwa asal-usul kawasan ini tak lepas dari era sebelum era keemasan Wali Sanga.

Kisah diawali dari Sunan Ampel yang menikah dengan Nyai Manila, putri Bupati Tuban Aryo Tejo. 

Dari pernikahan ini lahir lima orang anak, salah satunya kelak dikenal dengan nama Mbah Sinuwun. Karena kecerdasan beliau, sang guru berkeinginan menjadikannya menantu, dan beliau diizinkan pulang ke Ampel untuk memohon restu.

Dalam perjalanan pulang menuju Ampel, Mbah Sinuwun tak berhenti berdakwah. Saat rombongan tiba di Desa Klating Tikung, mereka melaksanakan salat Magrib berjamaah di tepi sendang. Di saat itulah Sindujaya datang karena mengira rombongan Mbah Sinuwun adalah celeng.

Dalam kegelapan dan kehilafan, Mbah Sinuwun terkena tombak oleh Sindujaya. Namun, beliau tetap bertahan dan memilih untuk terus melanjutkan perjalanan. 

Mbah Sinuwun akhirnya wafat dalam perjalanan antara Kedemangan menuju Katemenggungan, dan jasadnya kemudian dibawa pulang ke Ampel, Surabaya.

Mendengar berita tersebut, Sunan Ampel menyampaikan titah, "Makamkanlah jenazah putramu di pemukiman terdekat yang kalian jumpai."

Dari seruan itulah, pemukiman terdekat tersebut kemudian dikenal dengan nama Desa Deket, yang berasal dari kata mandek (berhenti).

Karena banyaknya peziarah yang datang dari arah timur dan barat, pemukiman ini kemudian dibagi menjadi dua, Desa Deket Wetan dan Desa Deket Kulon.

Semasa hidupnya, Mbah Sinuwun meninggalkan warisan ajaran mulia, Mulyo Guno Panco Waktu(Suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa dicapai dengan melaksanakan salat lima waktu). Membangun Resep Teyasing Sasama (Selalu berusaha membuat senang hati orang lain).

Laksi Taning Subroto Tanyipto Marang Pringgobayaning Lampah ( Dalam perjalanan mencapai cita-cita luhur, kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan).

Heneng, Hening, Henung ( Dalam keadaan diam (heneng) kita memperoleh keheningan (hening), dan dalam keheningan itulah kita akan mencapai cita-cita luhur (henung).

Hingga kini, jejak dakwah Mbah Sinuwun masih terus hidup dan menjadi pijakan spiritual serta kebudayaan bagi masyarakat Desa Deket Wetan.


  • Penulis    :  Bed

0 Comments

© Copyright 2024 - Barometer Investigasi News
wa